Jakarta

Hari ini tidak ku melangkah apalagi berlari, sedikit pun tak berucap apalagi teriak, lalu apa yang ku lakukan !

“Sakit ?” Tidak, “Tidur ?” Bukan, “lalu apa ?”
Aku menjalankan kereta tanpa penumpang, Menjadi buku tanpa ada tempat lagi untuk coretan, Menjadi pena tanpa tinta, dan mencoba berhitung menggunakan otak kanan.” apa yang kau bicarakan ini ?, aku tidak mengerti ?”
Apa Tuhan sudah tidak mampu lagi menampung semua doa ? Ini salah siapa ? terlalu banyak kah doa, atau terlalu sengsarakah kita ? Aku tidak meminta surga aku hanya mengharapkan kedatangan Malaikat Mikail, itu pun kalau Ia tidak lupa akan Tugasnya membagikan rezeki, perahu ini butuh dayung untuk mengayuh, anak ini butuh susu untuk tetap hidup, ternak ini juga butuh rumput untuk makan, bahkan ilalang di luar sana butuh air untuk tetap hijau.” sekarang kau membuatku tambah pusing, sudah katakan saja apa maksud perkataanmu ini ?”.
Puncaknya harus membunuh agar tak  terbunuh, menginjak atau terinjak, mengalahkan agar tak terkalahkan, tidak lagi meminta tapi merebut, tidak lagi diam tapi berteriak agar dapat terdengar.
Sedikit pengalaman yang ku dapat dari Jakarta,klo kita tidak pintar ini yang terjadi sebuah proses menuju kehancuran.
Terdiam sambil berpikir yang telah dilakukan lalu merasa yang di lakukan tidak berguna karna merasa tidak berguna mencoba mengadu kepada Sang pencipta dan saat tidak ada jawaban/kurang sabar timbullah KEBRUTALAN,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s