Sastra jendra Hayuningrat

Sastra jendra Hayuningrat atau dapat di artikan sebagai ilmu mencapai kesempurnaan atau dalam pengartian terminologi jawa disebut dengan ngelmu yang artinya sebuah ajaran rahasia untuk pegangan hidup (Poespaningrat Pranoejoe, 2008: 11). Tetapi arti kata ngelmu sendiri sudah pernah di artikan oleh Drs soesilo dalam bukunya yang berjudul ajaran kejawen yang terbit pada tahun 2000, beliau mengartikan ngelmu adalah angel ditemu artinya ilmu itu dipelajari dengan indra batin bukan aktivitas otak atau pemikiran semata.

Tujuan dari mempelajari ngelmu itu sendiri sudah pasti bukan untuk sesuatu yang berbau negatif melainkan untuk mencapai sebuah kesantunan dan ketenangan batin, hal tersebut telah jelas terdapat dalam sebuah serat yaitu serat wedatama gubahan mangkunegara yang menyebutkan “ngelmu iku kelakonekanthi laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pengekese dur angkara”.

Apabila sastra jendra tadi kita artikan dalam bahasa jawa maka akan lebih jelas kita dapat mengetahuinya, sastra yang berarti tulisan, lalu jen yang memiliki arti jane atau dalam baha indonesia berarti nyata dan dra singkatan dari Narendra yang artinya Yang Maha Agung atau Gusti. K.H Jamaludin menyebutkan bahwa ilmu yang memiliki media untuk mencapai makrifat atau mengenal Tuhan secara hakiki dalam islam disebut dengan Tasawuf.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Sastra Jendra Hayuningrat dapat kita artikan sebagai sebuah ilmu untuk membebaskan kejahatan guna memperoleh kebahagiaan.

Dalam jagat pewayanagan Satra Jendra Hayuningrat telah mengakibatkan sebuah tragedi besar, yaitu dimulai dari Bengawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang melakukan perbuatan kurang terpuji. Wisrawa telah menyalahi sifat kependetaannya dan Sukesi telah berani mempelajari ilmu dluar batas kemampuannya. Wisrawa ingkar janji dengan menikahi Sukesi, padahal dia hanyalah untusan dari anaknya. Ia seharusnya memenangkan sayembara yang diadakan disana dan menjadikan Sukesi Menantunya bukan Istrinya. Siapapun yang berhasil mempelajari ilmu Sastra Jendra meka ia akan mengetahui rahasia alam dan apa yang ada didalamnya maka pengetahuannya akan setingkat dengan dewa. Maka dari itu dewa selalu berusaha sekuat tenaga untuk mencegah manusia untuk menguasai ilmu tersebut. Karna manusia masih sangat penuh dengan hawa napsu dan apabila menguasai ilmu tersebut akan berbuah kekacauan.

Untuk mencegah semua itu pun akhirnya Batara Guru masuk ketubuh Sukesi dan membuat Sukesi bernapsu melihat Wisrawa dan Dewi Sukesi bersumpah siapapun yang memberi wejangan Sastra Jendra akan menjadi suaminya. Namun pada saat itu Wisrawa malah marah karna ia hanya bertindak sebagai utusan anaknya yaitu Prabu Danaraja.

Lalu Batara Guru pun berganti masuk tubuh Wisrawa dan membuatnya bernapsu kepada Sukesi karna terlihat secantik Betari Kamaratih dan berkata “ Lupakan Danaraja anakku dia telah mati”. Tapi pada saat itu Batara Guru kembali gagal karena Dewi Sukesi menolak Wisrawa. Karena selalu gagal akhirnya Batara Guru mengajak Dewi Uma untuk menggoda cucu Adam itu secara bersamaan. Dan akhirnya Dewi Uma dan Batara Guru pun berhasil.

Akan tetapi setelah Batara Guru berhasil bukankah Dewi Sukesi tetap akan mengandung seorang anak di luar pernikahan. Apakah pencegahan pengajaran Sastra jendra yang dilakukan oleh dewa harus berakibat buruk bagi manusia ?

Sastra jendra Hayuningrat juga pernah mengakibatkan tragedi yaitu, Prahasta yang berubah menjadi raksasa karna mengintip Dewi Sukesi yang sedang di wejang oleh Wisrawa, dia berubah menjadi raksasa karna ilmu itu belum seharusnya ia terima karna ia masih terlalu muda. Sebaliknya Prabu Sumali, Raja Brahmana yang berwujud raksasa berubah menjadi satria karna ia telah cukup dewasa.

Lalu tragedi Bengawan Wisrawa yang bertarung dengan Prabu Danaraja anak kandungnya. Pertarungan antara bapak dan anak, padahal seharusnya seorang ayah itu melindungi anaknya dan seorang anak harusnya menghormati ayahnya.

Dan Jambumangli sepupu dari Dewi Sukesi yang dibunuh oleh Wisrawa secara kejam, Wisrawan memotong kaki dan tangan Jambumangli sebelum membunuhnya, tetapi sebelum meninggal Jambumangli mengutuk Wisrawa, anak mu kelak akan mengalami hal yang sama dengan ku.

Kambakarna, anak dari Wisrawa meninggal waktu perang melawan Ramawijaya. Ia yang tidak memiliki dosa harus meninggal secara kejam karna menanggung dosa ayahnya. Tangan dan kakinya di potong sebelum dibunuh sama seperti kutukan yang dilontarkan oleh Jambumangli.

Keturunan dari Dewi Sukesi dan Bengawan Wisrawa mempunyai semua sifat yang kurang terpuji seperti. Dasamuka adalah lambang dari amarah, Sarpakenaka lambang dari supiyah, yang keduanya tidak dapt terpuaskan dan Kambakarna yang melambangkan nafsu aluamah yang hanya ingin makan sebanyak-banyaknya lalu tidur.

Dari perkawinan Sukesi dan Wisrawa muncullah catur hawa manusia yaitu : amarah, aluamah, supiyah danmutmaina.

PUNCAK ILMU KEJAWEN

Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu menurut para ahli tidak pernah dimuat dalam Kepusatakaan Jawa Kuna, tetapi dikenal pada abad IXI (1820) pada karya Kiyai Yasadipura dan Kiyai Sindusastra dalam Lakon Arjuna Wijaya atau Lokapala (dikutip dalam Kitab Arjuna Wijaya) dalam pupuh Sinom yang menyatakan:

Kejawi saking punika ngungun kawula dene ta boten kadasa putra tuan nini putri, sinten ta sing marahi. Penedahanira pinku. Sastra Jendra Yu ningrat menangka wadining bumi pan sinengker dening hyang Jagat Pratingkah. Tan kening singa ngucapa siniku ing bataradi senagyan para pandita, kang samya mandireng wukir awis ingkang ngarawuhi yen dede pandita pinunjul, kuala matur prasaja mring paduka yayi aji, kang tineda ing nini punika.

Sastra Jendra Yu Ningrat, pangruwating barang sakalir ingkang kawruh tan wonten malih wus kawengku sastradi pungkas pungkasaning kawruh ditya diyu rakseksa myong sato siningwanadri lamun weruh artine kang Sastra Jendra. Rinuwai dening Batara sampurna patine reki atmane wor lan manungsa, manungsa kang wis linuwih yen manungsa udani, wong lan dewa patinipun jawata kang minulya.

Terjemahan bebas kurang lebih sebagai berikut: Selain dari itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak wanita saya ini, yaitu barang siapa dapat memenuhi permintaannya untuk menjabarkan Sastra Jendra Yu Ningrat sebagai rahasia dunia (esoteris) yang dirahasiakan oleh Sanghyang Jagat Pratingkah.

Dimana tidak boleh seorang pun mengucapkannya, karena akan mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pendita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pendita yang mempuni. Saya akan berkata terus terang kepada dinda Prabu apa yang terjadai permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pengruwat segala sesuatu yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup dalam suatu kitab suci (ilmu luhur)= sastradi. Sastra Jendra itu juga merupakan akhir dari segala pengetahuan, segala pengetahuan Raksasa dan Diyu bahkan juga binatang yang berada di hutan belantara sekalipun, kalau mengetahui arti dar Sastra Jendra.

Akan diruwat oleh Batara matinya (nanti) akan menjadi sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang linuwih (mumpuni), sedangkan kalau yang mengetahui Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan Dewata yang mulia.

Jelaslah kiranya bahwa arti Sastra Jendra itu adalah suatu ujung dari segala akhir ilmu atau pepuntoning laku, atau akhir dari penjelmaan hidup. Sedangkan menurut Wedatama, Sastra Jendra merupakan ilmu Kasampurnaan atau Ilmu Luhur. Sastradi Ilmu Rahasia, Ilmu Mukswa, Ilmu Kasunyatan, Ilmu sejati ma’rifat, Nawaruci, Tatwa Jnana, yaitu suatu ilmu tentang esensi daripada wujud atau ilmu kalam dan disebut juga Ilmu Theologi.
Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia.Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno.  Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26;

Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam lakon wayang Lahirnya Dasamuka.

Referensi :

Poespaningrat Pranoejoe, Nonton Wayang dari Berbagai Pekeliran: 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s