Tari Topeng Cirebon


1. Sejarah Tari Topeng Cirebon

Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian tradisional yang berkembang di wilayah parahyangan (daerah Sunda di Jawa Barat yang luasnya mencakup wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, dan Cianjur). Menurut cerita rakyat yang berkembang Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang. Selain sebagai media hiburan, tarian ini juga pernah dijadikan sebagai media komunikasi dakwah Islam di Cirebon pada zaman dulu

2. Perkembangan Tari Topeng Cirebon

Baca lebih lanjut

Siapkah kita ?

Siapkah kita apabila kematian itu datang ? bekal apa yang kita punya ? kemana kita setelah dia datang ? pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui saya setiap saya memikirkan arti dari kata “kematian”. Sejatinya sangat banyak tempat untuk saya dapat menemukan jawaban dari pertanyaan diatas seperti dari ahli agama atau membaca kitab suci yang diturunkan Tuhan untuk pedoman hidup umatnya. Tetapi itu semua tidak cukup membuat hasrat ingin tahu saya akan makna kematian terpuaskan.

Kematian dari tafsir keagamaan adalah sebuah awal dari kehidupan yang kekal dimana setelah itu kita akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita didunia (hidup).  Kata mati sendiri saat diartikan adalah saat dimana nyawa atau jiwa meninggalkan raga.

Lalu bagaimana proses pertanggungjawaban tersebut ? dalam ajaran islam telah berulang kali diterangkan oleh Al-Qur’an Suci tentang buku catatan perbuatan baik buruk. Maka semua perbuatan manusia (baik,buruk) yang telah dilakukan didunia akan mendapatkan balasan tanpa ada perbedaan, tak ada perbuatan manusia yang sia-sia tanpa akibat atau  buah.

Apakah adil ? sehubungan dengan perbuatan baik dan buruk maka kita akan berpikir adilkah nanti saat kita mempertanggungjawabkan perbuatan kita.

Dan pada hari itu neraca dibuat seadil-adilnya; maka barangsiapa timbangan perbuatan baiknya berat, maka ia beruntung dan barangsiapa timbangan perbuatan baiknya ringan, mereka adalah orang yang merusak jiwanya” (7:8-9)

Hadis diatas sudah cukup menjelaskan bahwa kita tidak perlu ragu atau pun takut akan dicurangi saat penimbangan amal baik dan buruk.

 Lalu kemana ? jawabannya adalah surga atau neraka. Suatu tempat yang satu  mata pun belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengar dan tak ada pikiran seseorang yang pernah dapat membayangkannya. Tetapi yang saya ketahui surga adalah tempat yang indah dimana didalamnya mengalir sungai yang berasal dari amal baik orang-orang yang menghuninya sedangkan neraka adalah tempat dimana kita dijatuhkan, dibakar dan hancur lebur karena perbuatan buruk yang kita lakukan selama hidup.

Giliran Anda

            Giliran yang saya maksud disini adalah giliran kita di datangi oleh Malaikat Izhrail Malaikat yang memang ditugaskan oleh Tuhan untuk mencabut nyawa manusia. Bagaimana jika giliran itu datang pada anda ? pertanyaan itu saya lontarkan kepada sebagian teman. Dan jawaban mereka benar-benar memberikan pelajaran untuk saya. Seorang teman yang saya anggap cukup memiliki pendidikan agama yang baik menjawab kalau dia belum berani untuk berhadapan dengan Malaikat Izhrail karena dia merasa masih memiliki banyak dosa. Berbeda lagi dengan seorang teman yang sedikit urakan yang sangat tidak mengenal agama pertanyaan yang pertama saya lontarkan adalah “kowe wes mulai sholat durung ?” dan jawaban yang cukup mengejutkan keluar dari mulutnya, dia menjawab “aku wae lali kapan terakhir kali sholat”. Tidak berhenti disitu saat saya menanyakan pertanyaan berikutnya yaitu bagaimana kalau ajal mu sekarang ? dan tanpa beban ia menjawab ya sudah mau apa lagi. Dari wawancara singkat dengan dua orang yang berbeda latarbelakang tersebut apakah saya sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa budaya takut mati hanya berlaku untuk orang yang mengerti agama ?

            Karena masih belum cukup puas dengan wawancara yang masih menyimpan tanya diatas saya mencoba lagi untuk melakukan pendekatan dengan orang yang saya anggap berada sangat dekat dengan kematian. Beliau adalah seorang anggota tim SAR dan saya mencoba mengorek-ngorek sedikit pengalaman dari beliau. Beliau bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya sebagai tim SAR saat melakukan penyelamatan saat terjadi bencana Merapi setahun yang lalu. Beliau bercerita kalau beliau pernah menolong seorang ibu yang terjebak awan panas (wedus gembel) dalam rumahnya tetapi ibu itu menolak ditolong karena dia merasa anaknya yang berada didalam kamar jauh lebih layak untuk ditolong dibandingkan dirinya. Saat beliau menolong anak dari sang ibu itu dan membawanya turun dari lereng gunung tak lama awan panas pun turun dan nyawa sang ibu pun tidak dapat tertolong. Dari cerita diatas kembali saya mendapatkan sebuah tanya, apakah cinta kasih bisa membuat seseorang siap untuk mati dan kehilangan budaya takut matinya  ?

            Lalu bagaimana dengan bapak yang bekerja jadi seorang tim SAR tadi, apakah dia juga takut mati ? beliau menjawab dengan ciri khas orang dewasa yang membuat saya banyak mengerti tentang arti kematian. Kematian itu sudah ada yang mengatur kita sebagai manusia hanya menjalankan apa yang sudah di gariskan oleh Tuhan, saya hanya manusia biasa saya juga takut akan kematian tapi saya juga tetap harus menjalani hidup saya yang sangat dekat dengan kematian ini karena itu juga digaris oleh Tuhan.

Jadi kita sebagai manusia yang akan mengalami kematian ada baiknya mengingat bahwa kehidupan didunia ini hanyalah sementara agar kita bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta karena Ia lah zat yang membuat kita hidup dan Ia juga tempat kita kembali.

Tawa


 

 

 

 

 

 

Tertawa adalah melahirkan perasaan senang, bahagia, gembira, geli dan sebagainya dengan suara yang berderai dalam kamus bahasa indonesia sih dijelaskan begitu . dan berikut adalah sebagian kecil dari manfaat tertawa.

1.      Menurunkan Resiko Terkena Penyakit Jantung

Hasil studi University of Maryland Medical Center menyatakan bahwa mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung pada umumnya kurang melakukan aktivitas tertawa dalam hidupnya bahkan memiliki kecenderungan sifat pemarah dan bermusuhan terhadap orang lain.

2.      Memberikan Efek Bahagia Setara dengan Memakan 2000 batang coklat

“Jangan menunggu untuk bahagia baru tersenyum, namun tersenyumlah agar kita menjadi bahagia” (Aidh Alqarni).

The British Dental Health Foundation menyatakan bahwa tersenyum memiliki sensasi efek bahagia setara dengan saat memakan 2000 batang coklat.

3.      Meningkatkan Peluang Memiliki Usia Lebih Panjang

Sebuah pepatah mengatakan “Menjadi tua tidak akan menghalangi utk tersenyum, tapi tidak tersenyum akan memprecepat proses menjadi tua”.

Dalam  Archives of General Psychiatry dinyatakan bahwa mereka yang memiliki sifat pesimis & jarang tersenyum serta tertawa cenderung memiliki usia lebih pendek dari pada mereka yang selalu optimis dan sering tersenyum serta tertawa.

4.      Menambah Kekebalan Tubuh

Dalam hasil studi yang populer menyatakan juga bahwa ada hubungan erat antara tertawa dengan peningkatan kekebalan tubuh terhadap penyakit.

5.      Menurunkan Tingkat Stress

Tertawa menurut berbagai studi dapat menekan hormon penyebab stress seperti cortisol, epinephrine, dopamine dan menumbuhkan hormon yang berfungsi  untuk meningkatkan kesehatan seperti  endorphins, dan neurotransmitters.

6.      Memperbaiki Daya Tarik Kita

Sudah sewajarnya bagi mereka yang mudah senyum, dapat membuat orang lain tersenyum dan tertawa, akan disukai banyak orang karena senyum manis dan sifat humoris yang membuat wajah mereka juga semakin manis…:)

7.      Senilai dengan sedekah

Ternyata sedekah bisa juga tanpa harta yaitu dengan senyuman sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits, yang artinya:

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

dan sudahkah anda tertawa hari ini ?