Museum Mainan Anak Kolong Tangga

saya minta maaf karena saya berkata belum menemukan musem anak di kota saya “Miris“.

Alamat: 
MUSEUM MAINAN ANAK KOLONG TANGGA
Taman Budaya
Jl.Sriwedani no.1
Yogyakarta 55122
Telp. 0274-523512

Jam Kunjungan:
Selasa-Jumat 09.00-13.00
Sabtu-Minggu 09.00-16.00

Tiket:
Dewasa dan orang tua Rp 2.500
Gratis untuk anak di bawah usia 15 tahun

Sumber :

http://www.museumindonesia.com

Miris

Antara ! ya kata itu yang pertama kali muncul setelah saya menemukan video diatas.

Antara bahagia dan miris.

Bahagia saat orang-orang diluar sana bisa tertawa lepas dengan mainan kuno yang berasal dari Indonesia.

Namun miris ketika melihat kedalam, semua anak-anak disini jauh lebih memilih media modern untuk bermain.

apa nasib kekayaan ini, apakah akan musnah ditelan modernisasi ?

kesimpulan :

saya mendapatkan sebuah mimpi baru, ya mungkin seperti yang kalian pikirkan.

Museum mainan anak tradisional Indonesia, ntah sudah ada atau belum tapi saya tidak menemukan itu dikota saya.

 

Legenda Etiologis Bayuwangi

Serat Ajipamasa

Serat Ajipamasa adalah Serat karangan R. Ng. Ranggawarsita, Serat Ajipamasa sendiri Bersifat epik, romantik, didaktik, kronik dan didukung unsur-unsur (motif) myte, legenda (etiologis), simbolisme, hagiografis, mimpi, cinta, karma, peruwatan, perebutan kekuasaan, ilham, hukum, perekonomian, filsafat, pola pelestarian lingkungan hidup, adat istiadat, sosial masyarakat, strategi perang, kepahlawanan maupun keditektifan.

Dari uraian di atas nyata bahwa Serat Ajipamasa sarat akan bebagai macam tradisi jawa. Pengertian etiologis secara etimologi sendiri terdiri atas 2 kata yaitu, legenda dan etiologis. Legenda adalah cerita rakyat tentang tokoh, peristiwa atau temapt tertentu yang mencampurkan fakta historis dan mitos. Dan etiologis adalah kisahan pendek dalam prosa atau puisi yang menceritakan asal-usul nama, seperti nama tempat, nama orang.

Dalam serat tersebut kaitanannya sangat erat dengan lamaran Prabu kusumawicitra raja Kediri kepada Dewi Suskandani atau Dewi Daruki.

Prabu Kusumawicitra mengutus Brahmanacari ke Pampang (panampangan) Menghadap Ajar Kapya untuk melamar Dewi Daruki. Lamaran raja tersebut di terima akan tetapi dengan syarat baginda melindungi Padepokan Banyuwangi atas kemarahan Prabu Tungu dari Ujung Timur yang lebih dahulu melamar sang putri. Didalam Serat Ajipamasa dikemukakan penamaan kota Banyuwangi atau Toyawangi berkaitan dengan munculnya naga Daruki penjelmaan tembuni Dewi Daruki dari dalam sedang. Cerita lain menjelaskan Ajar Subrata adalah saudara seperguruan dan besan dari Jayabaya yang di bunuh oleh Jayabaya sendiri karna Jayabaya yang telah mendapat ilmu yang sangat tinggi (Jangka Tanah Jawa) tetapi di anggap salah besar karna melanggar pantangan gurunya (Molana Ngali samsuzen).

Ajar Sutapa memiliki istri yang bernama Endang Maswi. Pada saat mengandung Endang telah di tinggal meninggal oleh suaminya tetapi bayi yang di lahirkannya diyakini adalah penjelmaan dari Ajar Sutapa, setelah bayi tersebut lahir muncullah naga Penjelmaan Dewi Daruki. Naga tersebut meminta kepada pakaian indah kepada dewa seperti halnya diberikan kepada saudara perempuannya. Kemudian para dewa menamai naga tersebut Naga Raja Daruka. Adapun bayi putri Ajara Kapyara dan Endang Maswi itu diberi nama Dewi Daruki. Pada waktu Naga Daruka muncul dari dalam mata air itu, maka airnya menjadi berbau harum (wangi). Oleh sebab itu mata air tesebut dinamakan Banyuwangi (Serat Ajipamasa pupuh IV). Dari kejadian tersebut maka Ajar Kapyara menamakan Pampang tersebut dengan nama Banyuwangi dan masyarakat di luar desa lebih mengenal dengan nama Toyawangi.

Beberapa waktu kemudian Prabu Kusumawicitra datang ke Banyuwangi untuk melangsungkan pernikahan dengan Dewi Daruki. Prabu Tungu dari Ujung Timur yang kemudian mendengar berita perkawinan tersebut kemudian menyerang Padepokan Banyuwangi. Tetapi serangan tersebut mendapat perlawanan dari pasukan Kediri. Peperangan tersebut dilukiskan dalam Serat Ajipamasa pupuh X pangkur, bait 10-32.

Baca lebih lanjut